Selasa, 21 Januari 2014
PENGGUNAAN BORAKS DAN FORMALIN SEBAGAI BAHAN
PENGAWET MAKANAN
TUGAS IV
MATAKULIAH BAHASA INDONESIA 2
KATA
PENGANTAR
Pertama-tama
kami ingin mengucapkan puji dan sykur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah
memberkati kami sehingga karya tulis ini dapat diselesaikan. Kami juga ingin
mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu kami dalam
pembuatan karya tulis ini dan berbagai sumber yang telah kami pakai sebagai
data dan fakta pada karya tulis ini.
Kami
mengakui bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai
hal. Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan sangat
sempurna. Begitu pula dengan karya tulis ini yang telah kami
selesaikan. Tidak semua hal dapat kami deskripsikan dengan sempurna dalam karya
tulis ini. Kami melakukannya semaksimal mungkin dengan kemampuan yang kami
miliki. Di mana kami juga memiliki keterbatasan kemampuan.
Maka dari
itu seperti yang telah dijelaskan bahwa kami memiliki keterbatasan dan juga
kekurangan, kami bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca yang budiman.
Kami akan menerima semua kritik dan saran tersebut sebagai batu loncatan yang
dapat memperbaiki karya tulis kami di masa datang. Sehingga semoga karya tulis
berikutnya dan karya tulis lain dapat diselesaikan dengan hasil yang lebih
baik.
Dengan
menyelesaikan karya tulis ini kami mengharapkan banyak manfaat yang dapat
dipetik dan diambil dari karya ini. Semoga dengan adanya karya tulis ini dapat
mengurangi bahkan menghilangkan penggunaan boraks dan formalin sebagai pengawet
pada makanan. Dengan begitu maka kesehatan akan lebih terjamin dan tidak ada
lagi muncul berbagai penyakit baru yang diakibatkan penggunaan bahan-bahan
terlarang sebagai bahan baku makanan.
Kami
juga mengharapkan kinerja yang lebih baik dan tegas serta efektif dari pihak
pengawas makanan yang merupakan bagian dari ke pemerintahan, sehingga makanan yang
dihasilkan dari Indonesia dapat lebih terjamin dan sehat.
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar………………………………………………………………… …………………..1
Daftar Isi…………………………………………………………...………………………………... 2
Abstraksi……………………………………...…………………………………………………….. 3
Daftar Isi…………………………………………………………...………………………………... 2
Abstraksi……………………………………...…………………………………………………….. 3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………….. ………………………..4
1.2 Pembatasan Masalah……………………………………….………………………………... 4
1.3 Perumusan Masalah………………………………………………….…….………………….4
1.4 Tujuan Penulisan……………..…………………………..……………………………………. 5
1.5 Metode Penelitian……..………………………………………………………………………. 5
1.6 Hipotesa……………....…………………………………………………………………….…. 5
1.7 Manfaat…………....…….………………………………………………………………….….. 5
1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………….. ………………………..4
1.2 Pembatasan Masalah……………………………………….………………………………... 4
1.3 Perumusan Masalah………………………………………………….…….………………….4
1.4 Tujuan Penulisan……………..…………………………..……………………………………. 5
1.5 Metode Penelitian……..………………………………………………………………………. 5
1.6 Hipotesa……………....…………………………………………………………………….…. 5
1.7 Manfaat…………....…….………………………………………………………………….….. 5
BAB II LANDASAN
TEORI…………………………………………………………………….…...6
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian……….……………………………………………………………….………..8
3.2 Sumber Data……………………………………………………………………………….……8
3.3 Teknik Pengumpulan Data…………………………………….…………………………..…...8
3.4 Teknik Analisis Data……………………………………………………………………...…….8
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pengertian Boraks dan Formalin………………………………………………………..… …9
4.2 Dampak Penggunaan Boraks dan Formalin Pada Makanan…………………………….…9
4.3 Makanan yang Biasanya Mengandung Formalin atau Boraks ………………………..…..10
4.4 Peran pemerintah dalam memberantas boraks dan formalin di Indonesia………..……..12
4.1 Pengertian Boraks dan Formalin………………………………………………………..… …9
4.2 Dampak Penggunaan Boraks dan Formalin Pada Makanan…………………………….…9
4.3 Makanan yang Biasanya Mengandung Formalin atau Boraks ………………………..…..10
4.4 Peran pemerintah dalam memberantas boraks dan formalin di Indonesia………..……..12
BAB V PENUTUP
5.1
Kesimpulan ………….……...…………………………………………………………………13
5.2 Saran………………...…………………………………………………………………………13
5.2 Saran………………...…………………………………………………………………………13
DAFTAR PUSTAKA…………..……………… ……………………..……………….…………
14
ABSTRAKSI
Karya
tulis ini menjelaskan tentang bagaimana sekarang ini banyak kejadian penggunaan
boraks dan formalin sebagai bahan pengawet makanan. Di mana kedua bahan
tersebut sangat dilarang digunakan sebagai bahan baku makanan. Dan jika
penggunaannya terus dilakukan dan dikonsumsi dapat menyebabkan berbagai
penyakit terutama kanker dan bahkan kematian untuk tingkat yang lebih
lanjut. Hal ini telah menjadi hal yang cukup serius dan menjadi suatu masalah
yang berusaha diselesaikan dengan baik oleh berbagai pihak terutama pemerintah.
Sebagai pusat utama kelangsungan negara, pemerintah harus dapat dengan bijak memutuskan dan bertindak bagaimana penanganan kasus tersebut. Terutama kasus pada pembuatan bakso dengan bahan pengawet boraks dan berbagai makanan seperti ikan asin serta tahu yang diawetkan dengan menggunakan formalin. Berbagai solusi kami tuliskan di sini. Tetapi solusi tersebut tidaklah semuanya dapat dijalankan dengan hasil yang cepat dan ada kemungkinan banyak faktor yang menyebabkan penyelesaian masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Karena masalah ini harus kembali lagi kepada masyarakatnya yang terlibat langsung.
Sebagai pusat utama kelangsungan negara, pemerintah harus dapat dengan bijak memutuskan dan bertindak bagaimana penanganan kasus tersebut. Terutama kasus pada pembuatan bakso dengan bahan pengawet boraks dan berbagai makanan seperti ikan asin serta tahu yang diawetkan dengan menggunakan formalin. Berbagai solusi kami tuliskan di sini. Tetapi solusi tersebut tidaklah semuanya dapat dijalankan dengan hasil yang cepat dan ada kemungkinan banyak faktor yang menyebabkan penyelesaian masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Karena masalah ini harus kembali lagi kepada masyarakatnya yang terlibat langsung.
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Pada bab I ini akan dijelaskan
mengenai latar belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan
penulisan, metode penelitian, hipotesa dan manfaat.
1.1 Latar Belakang Masalah
1.1 Latar Belakang Masalah
Sekarang ini banyak
sekali bahan kimia dan berbagai campuran-campuran lain dibuat dan diciptakan
untuk membuat pekerjaan manusia dalam membuat makanan lebih efektif dan
efisien. Tetapi di samping untuk makanan dibuat juga bahan kimia untuk
pembuatan kebutuhan lain. Di mana bahan kimia tersebut tidak boleh dipergunakan
dalam pembuatan makanan dan dapat berakibat fatal.Hal ini sangat penting dan
juga memprihatinkan. Fenomena ini merupakan salah satu masalah dan kebobrokan
bangsa yang harus diperbaiki. Janganlah sampai membiarkan hal ini terus
berlarut dan akhirnya akibat menumpuk di masa depan. Oleh karena itu, kami
berusaha merangkum sedemikian rupa dan mencoba membedah apa saja yang
seharusnya dilakukan dan mengapa hal ini menjadi hal yang sangat penting.
1.2
Pembatasan Masalah
Boraks
adalah bahan kimia yang digunakan sebagai pengawet kayu, antiseptik kayu dan
pengontrol kecoa. Sedangkan formalin adalah bahan kimia yang digunakan sebagai
desinfektan, pembasmi serangga dan dalam industri tekstil serta kayu lapis.
Kedua bahan kimia tersebut memang berguna jika digunakan sesuai fungsinya, tetapi menjadi sangat berbahaya bila digunakan dalam pembuatan pangan. Di mana pangan itu merupakan segala sesuatu yang menjadi bahan makanan manusia. Dan akibat dari penggunaan bahan-bahan kimia tersebut bisa jadi sangatlah fatal, dari kanker hingga menyebabkan kematian.
Dalam karya tulis ini kami akan berusaha membahas pendeskripsian sedetail mungkin dari boraks dan formalin itu sendiri serta bagaimana kedua bahan kimia tersebut dapat digunakan sebagai salah satu bahan baku pembuatan pangan. Begitu pula dengan berbagai akibat dari penggunaan boraks dan formalin pada pangan tersebut serta bagaimana solusi yang harus dilakukan demi membasmi hal ini dan mencegah terjadi lagi.
Kedua bahan kimia tersebut memang berguna jika digunakan sesuai fungsinya, tetapi menjadi sangat berbahaya bila digunakan dalam pembuatan pangan. Di mana pangan itu merupakan segala sesuatu yang menjadi bahan makanan manusia. Dan akibat dari penggunaan bahan-bahan kimia tersebut bisa jadi sangatlah fatal, dari kanker hingga menyebabkan kematian.
Dalam karya tulis ini kami akan berusaha membahas pendeskripsian sedetail mungkin dari boraks dan formalin itu sendiri serta bagaimana kedua bahan kimia tersebut dapat digunakan sebagai salah satu bahan baku pembuatan pangan. Begitu pula dengan berbagai akibat dari penggunaan boraks dan formalin pada pangan tersebut serta bagaimana solusi yang harus dilakukan demi membasmi hal ini dan mencegah terjadi lagi.
1.3 Perumusan Masalah
1.
Apa
faktor yang mendorong pihak-pihak tertentu untuk menggunakan boraks atau
formalin pada pangan yang diproduksinya?
2.
2
Jenis pangan apa saja yang menjadi sasaran penggunaan boraks atau formalin pada
prosespembuatannya?
3.
Bagaimana
mengetahui suatu pangan dibuat dengan bahan pengawet dari boraks atau
formalin?
formalin?
4.
Apa
akibat dari penggunaan boraks atau formalin pada produk pangan?
5.
Bagaimana
penanganan penggunaan boraks dan formalin pada produk pangan ini supaya dapat
dibasmi secara tuntas?
1.4
Tujuan Penulisan
Mengetahui
pengertian boraks dan formalin. Mengetahui jenis-jenis pangan yang menjadi
sasaran penggunaan boraks dan formalin pada proses pembuatannya.
Mengetahui dampak negatif dari penggunaan boraks dan formalin pada produk pangan.
Mengetahui peranan pemerintah dalam memberantas penggunaan formalin dan boraks pada makanan.
Mengetahui dampak negatif dari penggunaan boraks dan formalin pada produk pangan.
Mengetahui peranan pemerintah dalam memberantas penggunaan formalin dan boraks pada makanan.
1.5
Metode Penulisan
Pada
penulisan karya tulis ini kami menggunakan satu metode, yaitu dengan angket. Di
mana angket akan kami sebarkan dengan jumlah 40 lembar. Di mana angket itu
berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai boraks dan formalin pada makanan mengacu
pada tujuan yang telah ada.
1.6 Hipotesa
1.
Boraks
dan formalin merupakan bahan pengawet yang umumnya digunakan untuk industri
tekstil, kayu, dsb. Dapat juga digunakan sebagai pembasmi serangga dan hal-hal
lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan makanan.
2.
Jenis
pangan yang menjadi sasaran penggunaan boraks atau formalin pada proses
pembuatannya adalah tahu, tempe, bakso dan ikan asin.
3.
Akibat
dari penggunaan boraks atau formalin pada produk pangan adalah berbagai
gangguan pada saluran pencernaan, hati, saraf, otak, serta pada organ-organ
yang berselaput yang terkena secara langsung. Dan bila terjadi secara terus
menerus dapat menyebabkan kanker bahkan kematian.
4.
Sebenarnya
pemerintah telah berperan dalam pemberantasan penggunaan boraks dan formalin
pada produk makanan. Tetapi tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah kurang
tegas dan tidak tepat mengenai sasaran. Sehingga hingga sekarang kita masih
sering melihat orang-orang yang keracunan atau terkena penyakit lainnya,
disebabkan memakan makanan yang mengandung boraks atau formalin.
1.7 Manfaat
Dapat
mengetahui cirri-ciri makanan dengan bahan baku boraks atau formalin sebagai
pengawet sehingga dapat menghindarinya. Dapat menghindari secara langsung
penggunaan boraks dan formalik pada produk pangan. Dapat menambah wawasan
dengan mengetahui dampak yang diakibatkan dari penggunaan boraks dan formalin
pada produk pangan. Dapat membantu pencegahan dan pemberantasan penggunaan
boraks dan formalin dengan berbagai solusi yang telah dipikirkan.
BAB II
LANDASAN TEORI
LANDASAN TEORI
Boraks merupakan garam natrium yang banyak digunakan di berbagai industri nonpangan, khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Boraks biasa berupa serbuk kristal putih, tidak berbau, mudah larut dalam air, tetapi boraks tidak dapat larut dalam alkohol. Boraks biasa digunakan sebagai pengawet dan antiseptic kayu. Daya pengawet yang kuat dari boraks berasal dari kandungan asam borat didalamnya.
Asam
borat sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan
asam borat dalam air digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai
boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung, dan
salep luka kecil. Namun, bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada luka
luas, karena beracun ketika terserap masuk dalam tubuh. Berikut beberapa
pengaruh boraks pada kesehatan.
a.
Tanda
dan gejala akut :
Muntah-muntah, diare, konvulsi dan depresi SSP(Susunan Syaraf Pusat)
Muntah-muntah, diare, konvulsi dan depresi SSP(Susunan Syaraf Pusat)
b.
Tanda
dan gejala kronis
- Nafsu makan menurun
- Gangguan pencernaan
- Gangguan SSP : bingung dan bodoh
- Anemia, rambut rontok dan kanker.
- Nafsu makan menurun
- Gangguan pencernaan
- Gangguan SSP : bingung dan bodoh
- Anemia, rambut rontok dan kanker.
Sedangkan
formalin merupakan cairan tidak berwarna yang digunakan sebagai desinfektan,
pembasmi serangga, dan pengawet yang digunakan dalam industri tekstil dan kayu.
Formalin memiliki bau yang sangat menyengat, dan mudah larut dalam air maupun
alkohol. Beberapa pengaruh formalin terhadap kesehatan adalah sebagai berikut.
a.
Jika
terhirup akan menyebabkan rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan , sukar
bernafas, nafas pendek, sakit kepala, dan dapat menyebabkan kanker paru-paru.
b.
Jika
terkena kulit akan menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan kulit terbakar
c.
Jika
terkena mata akan menyebabkan mata memerah, gatal, berair, kerusakan mata,
pandangan kabur, bahkan kebutaan
d.
Jika
tertelan akan menyebabkan mual, muntah-muntah, perut terasa perih, diare, sakit
kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit
membiru, hilangnya pandangan, kejang, bahkan koma dan kematian.
Boraks
dan formalin akan berguna dengan positif bila memang digunakan sesuai dengan
seharusnya, tetapi kedua bahan itu tidak boleh dijadikan sebagai pengawet
makanan karena bahan-bahan tersebut sangat berbahaya, seperti telah diuraikan
diatas pengaruhnya terhadap kesehatan. Walaupun begitu, karena ingin mencari
keuntungan sebanyak-banyaknya, banyak produsen makanan yang tetap menggunakan
kedua bahan ini dan tidak memperhitungkan bahayanya. Pada umumnya, alasan para
produsen menggunakan formalin dan boraks sebagai bahan pengawet makanan adalah
karena kedua bahan ini mudah digunakan dan mudah didapat, karena harga nya
relatif murah dibanding bahan pengawet lain yang tidak berpengaruh buruk pada
kesehatan. Selain itu, boraks dan formalin merupakan senyawa yang bisa
memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus, misalnya
bakso dan kerupuk. Beberapa contoh makanan yang dalam pembuatannya sering
menggunakan boraks dan formalin adalah bakso, kerupuk, ikan, tahu, mie, dan
juga daging ayam.
Formalin
dan boraks merupakan bahan tambahan yang sangat berbahaya bagi manusia karena
merupakan racun. Bila terkonsumsi dalam konsentrasi tinggi racunnya akan
mempengaruhi kerja syaraf. Secara awam kita tidak dapat mengetahui seberapa
besar kadar konsentrat formalin dan boraks yang digunakan dalam suatu makanan.
Oleh karena itu lebih baik hindari makanan yang mengandung formalin dan boraks.
Berikut adalah beberapa cara mengidentifikasi makanan yang menggunakan formalin
dan boraks.
Ø
Bakso
yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan khas yang berbeda dari kekenyalan
bakso yang menggunakan banyak daging.
Ø
Kerupuk
yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk, teksturnya
bagus dan renyah.
Ø
Ikan
basah yang tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar, insang berwarna merah tua
dan tidak cemerlang, dan memiliki bau menyengat khas formalin.
dan tidak cemerlang, dan memiliki bau menyengat khas formalin.
Ø
Tahu
yang berbentuk bagus, kenyal, tidak mudah hancur, awet hingga lebih dari
3 hari, bahkan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es, dan berbau menyengat khas formalin.
3 hari, bahkan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es, dan berbau menyengat khas formalin.
Ø
Mie
basah biasanya lebih awet sampai 2 hari pada suhu kamar (25 derajat celcius),
berbau
menyengat, kenyal, tidak lengket dan agak mengkilap.
menyengat, kenyal, tidak lengket dan agak mengkilap.
BAB III
METODE PENELITIAN
Pada bab 3 ini akan dijelaskan mengenai jenis penelitian, sumber data, teknik
pengumpulan data dan teknik analisa data.
3.1 Jenis Penelitian
3.1 Jenis Penelitian
Jenis
penelitian yang kami gunakan adalah penelitian korelatif. Yang di maksud dengan
penelitian korelatif adalah penelitian yang menghubungkan data-data yang ada.
Sesuai dengan pengertian tersebut kami menghubungkan data-data yang kami dapat
antara yang satu dengan yang lain. Selain itu kami juga menghubungkan data-data
yang ada dengan landasan teori yang kami gunakan. Sehingga diharapkan
penelitian kami bisa menjadi penelitian yang benar dan tepat.
3.2 Sumber data
Sumber data kami adalah beberapa siswa SMA Kanisius, yang kira-kira kami ambil sampel adalah 40 siswa.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Adapun
teknik pengumpulan data yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah dengan
angket. Dengan angket kami dapat menyimpulkan, melalui jumlah koresponden yang
menjawab pertanyaan tertentu dan membandingkan jumlah koresponden yang menjawab
dengan jawaban yang berbeda pada pertanyaan yang sama. Dan setiap dari
pertanyaan itu akan saling berkaitan.
3.4 Teknik Analisis Data
Cara kami dalam menganalisis data yang kami dapat yaitu dengan pertama-tama memastikan bahwa semua data dan landasan teori yang diperlukan telah diperoleh dengan baik. Lalu kami mulai menghitung jumlah data, setelah itu kami mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari tiap pertanyaan pada angket berdasarkan jumlah responden yang memilih. . Langkah berikutnya, sesuai dengan jenis penelitian kami, kami menghubungkan data-data yang satu dengan yang lain dan juga dengan landasan teori yang ada. Langkah terakhir, kami menuangkannya dalam karya tulis ini.
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai apa itu boraks dan formalin, dampak penggunaan boraks dan formalin pada makanan dan jenis-jenis makanan yang mengandung boraks dan formalin yang kesemuanya itu dilengkapi dengan hasil angket sebelumnya.
4.1 Pengetahuan akan Boraks dan Formalin
Menurut
hasil angket kami, didapatkan bahwa yang mengetahui secara pasti apa itu boraks
dan formalin adalah 29 orang dan yang tidak mengetahui begitu pasti apa itu
boraks dan formalin adalah 11 orang, dari total 40 angket yang dibagikan. Hal
itu menunjukkan bahwa responden yang mengetahui secara persis apa itu boraks
dan formalin lebih banyak dari pada yang tidak mengetahui secara pasti. Jika
dimasukkan dalam persen maka 72,5 % responden menyatakan mengetahui boraks dan
formalin, sedangkan 27,5 % lainnya tidak begitu mengetahui tentang boraks dan
formalin. Hasil ini menunjukkan
bahwa penyuluhan dan pengetahuan akan boraks dan formalin harus lebih sering
disosialisasikan, agar diharapkan kita semua mengetahui secara pasti apa itu
boraks dan formalin, sehingga dapat menggunakannya secara benar, sesuai dengan
fungsinya. Maka diharapkan juga dengan pengetahuan akan boraks dan formalin
tersebut, kasus penggunaan boraks dan formalin pada bahan makanan dapat
dikurangi bahkan menghilang dari masyarakat.
4.2 Dampak Penggunaan Boraks dan Formalin Pada Makanan
Melalui
hasil angket yang telah kami sebarkan sebelumnya, didapat hasil bahwa jumlah
responden yang mengerti akan dampak angket hamper sama dengan responden yang
tidak begitu tahu tentang dampak boraks dan formalin pada makanan. Adapun
jumlah responden yang tahu dampak boraks dan formalin pada makanan adalah 18
orang dan yang tidak begitu tahu sebanyak 20 orang sedangkan yang sama sekali
tidak tahu ada 2 orang. Jika dituangkan dalam presentasi adalah sebagai berikut
:
1. Jawaban A : 45%
2. Jawaban B : 5%
3. Jawaban C :50%
Dari hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar responden masih rancu atau bingung tentang apa dampak boraks dan formalin bagi tubuh tersebut. Lalu apa sebenarnya dampak boraks dan formalin dalam makanan bila dikonsumsi tubuh kita?
a.
Formalin
Formalin tidak boleh digunakan sebagai bahan pengawet untuk pangan. Akibatnya jika digunakan pada pangan dan dikonsumsi oleh manusia akan menyebabkan beberapa gejala diantaranya adalah tenggorokan terasa panas dan kanker yang pada akhirnya akan mempengaruhi organ tubuh lainnya,serta gejala lainnya.
Formalin tidak boleh digunakan sebagai bahan pengawet untuk pangan. Akibatnya jika digunakan pada pangan dan dikonsumsi oleh manusia akan menyebabkan beberapa gejala diantaranya adalah tenggorokan terasa panas dan kanker yang pada akhirnya akan mempengaruhi organ tubuh lainnya,serta gejala lainnya.
Pengaruh Formalin Terhadap Kesehatan :
1.
Jika
terhirup
Rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan , sukar bernafas, nafas pendek, sakit kepala, kanker paru-paru.
Rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan , sukar bernafas, nafas pendek, sakit kepala, kanker paru-paru.
2.
Jika
terkena kulit
Kemerahan, gatal, kulit terbakar
Kemerahan, gatal, kulit terbakar
3.
Jika
terkena mata
Kemerahan, gatal, mata berair, kerusakan mata, pandangan kabur, kebutaan
Kemerahan, gatal, mata berair, kerusakan mata, pandangan kabur, kebutaan
4.
Jika
tertelan
Mual, muntah, perut perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit
membiru, hilangnya pandangan, kejang, koma dan kematian.
Mual, muntah, perut perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit
membiru, hilangnya pandangan, kejang, koma dan kematian.
b.
Boraks
Efek toksiknya akan terasa bila boraks dikonsumsi secara kumulatif dan penggunaannya berulang-ulang. Pengaruh terhadap kesehatan :
Efek toksiknya akan terasa bila boraks dikonsumsi secara kumulatif dan penggunaannya berulang-ulang. Pengaruh terhadap kesehatan :
1.
Tanda
dan gejala akut :
Muntah, diare, merah
dilendir, konvulsi dan depresi SSP (Susunan Syaraf Pusat)
2.
Tanda
dan gejala kronis
- Nafsu makan menurun
- Gangguan pencernaan
- Gangguan SSP : bingung dan bodoh
- Anemia, rambut rontok dan kanker.
- Nafsu makan menurun
- Gangguan pencernaan
- Gangguan SSP : bingung dan bodoh
- Anemia, rambut rontok dan kanker.
Formalin dan boraks merupakan bahan tambahan yang sangat berbahaya bagi manusia karena merupakan racun. Bila terkonsumsi dalam konsentrasi tinggi racunnya akan mempengaruhi kerja syaraf. Secara awam kita tidak tahu seberapa besar kadar konsentrat formalin dan boraks yang dianggap membahayakan. Oleh karena ada baiknya kita hindari makanan yang mengandung formalin dan boraks. Jauhkan anak-anak dari makanan yang mengandung boraks dan formalin. Formalin dan boraks tidak boleh digunakan dalam makanan.
4.3 Makanan yang Biasanya Mengandung Formalin atau Boraks
Berdasarkan
hasil penelitian melalui angket yang telah kami sebarkan, jumlah responden yang
menganggap bahwa tahu dan bakso adalah makanan yang paling sering diberi
formalin sebanyak 33 orang, sedangkan yang memilih ikan sebanyak 6 orang, dan 1
orang memilih kerupuk. Sedangkan menurut makanan-makanan yang biasa mengandung
boraks dan formalin yang biasanya mereka konsumsi, jumlah responden yang
memilih tahu dan bakso sebanyak 28 orang, 10 orang memilih ikan dan 2 orang
memilih kerupuk. Data ini menunjukkan bahwa kebanyakan siswa SMA Kanisius
beranggapan bahwa tahu dan bakso merupakan makanan yang biasanya diberi
formalin atau boraks. Tahu dan bakso memang cukup dikenal sering diberi formalin
maupun boraks, namun bukan mereka makanan yang paling sering diberi formalin
maupun boraks. Berdasarkan penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia
tahun 2005, penggunaan boraks formalin pada ikan dan hasil laut menempati
peringkat teratas. Yakni, 66 persen dari total 786 sampel. Sementara mi basah
menempati posisi kedua dengan 57 persen. Tahu dan bakso berada di urutan
berikutnya yakni 16 persen dan 15 persen.
Dan dari pertanyaan nomor tiga pada angket ternyata responden banyak menjawab bahwa mereka paling sering mengkonsumsi tahu dan bakso. Padahal, menurut kebanyakan dari mereka tahu dan bakso adalah makanan yang biasanya mengandung boraks atau formalin. Mengapa mereka masih tetap sering mengonsumsinya meskipun menganggap bahwa tahu dan boraks yang paling sering mengandung formalin dan boraks? Mungkin hal ini disebabkan karena siswa SMA Kanisius percaya bahwa para pedagang di Kanisius pasti tidak memberikan formalin maupun boraks pada dagangannya, maka mereka tidak takut untuk mengonsumsinya.
Namun tetap saja, boraks dan formalin sangatlah berbahaya bila termakan. Walaupun berdasarkan hasil penelitian Badan Pengawasan Obat dan Makanan Indonesia tahun 2005 penggunaan boraks dan formalin paling banyak adalah pada ikan dan hasil laut, namun jumlah 16 persen dan 15 persen tetap merupakan jumlah yang besar. Kita harus berhati-hati dalam memilih makanan yang akan kita makan, terutama makanan-makanan yang sedang marak diberi boraks maupun formalin.
Oleh karena itu, di bawah ini kami paparkan mengenai ciri-ciri dari beberapa makanan yang diberi boraks maupun formalin:
A.
Mie
basah
Penggunaan
formalin pada mi basah akan menyebabkan mi tidak rusak sampai dua hari pada
suhu kamar ( 25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu
lemari es ( 10 derajat Celsius). Baunya agak menyengat, bau formalin. Tidak
lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal. Penggunaan boraks pada
pembuatan mi akan menghasilkan tekstur yang lebih kenyal.
B.
Tahu
Tahu
merupakan makanan yang banyak digemari masyarakat, karena rasa dan kandungan
gizinya yang tinggi. Namun dibalik kelezatannya kita perlu waspada karena bisa
saja tahu tersebut mengandung bahan berbahaya. Perhatikan secara cermat apabila
menemukan tahu yang tidak mudah hancur atau lebih keras dan kenyal dari tahu
biasa, kemungkinan besar tahu tersebut mengandung bahan berbahaya, bisa
formalin maupun boraks. Selain itu, tahu yang diberi formalin tidak akan rusak
sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari
15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius). Tahu juga akan terlampau
keras, namun tidak padat. Bau agak mengengat, bau formalin.
C.
Bakso
Bakso
tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius). Teksturnya
juga sangat kenyal.
D.
Ikan
segar
Ikan
segar yang diberi formalin tekstur tubuhnya akan menjadi kaku dan sulit
dipotong. Ia tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar ( 25 derajat
Celsius). Warna insang merah tua dan tidak cemerlang, bukan merah segar dan warna
daging ikan putih bersih.
E.
Ikan
asin
Ikan asin
yang mengandung formalin akan terasa kaku dan keras, bagian luar kering tetapi
bagian dalam agak basah karena daging bagian dalam masih mengandung air. Karena
masih mengandung air, ikan akan menjadi lebih berat daripada ikan asin yang
tidak mengandung formalin. Tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu
kamar ( 25 derajat Celsius). Tubuh ikan bersih, cerah.
4.4 Peran pemerintah dalam memberantas boraks dan formalin di Indonesia
Walaupun
penyebaran boraks dan formalin di Indonesia sudah luas sekali dan sudah menjadi
umum, pemerintah masih tidak mengambil langkah yang tegas dalam menangani hal
ini. Buktinya bisa didapat, bahwa ternyata penggunaan formalin dan boraks
sebagai bahan pengawet makanan masih merajalela. Sebenarnya, pemerintah sudah berusaha mengambil tindakan, yaitu
dengan melalui Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Beberapa langkah sudah
diambil oleh BPOM, seperti : melarang panganan permen merek white rabbit
creamy, kiamboy, classic cream, black currant, dan manisan plum; mengeluarkan
permenkes no. 722/1998 tentang bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam
pangan; dan melakukan sosialisasi penggunaan bahan tambahan makanan yang
diizinkan dalam proses produksi makanan & minuman sesuai UU No. 23/1992
untuk aspek keamanan pangan, & UU No. 71/1996. Tetapi upaya yang dilakukan
Badan POM tersebut, hanya dianggap gertakan oleh para pedagang, karena Badan
POM hanya mengeluarkan undang-undang dan aturan. Tetapi Badan POM tidak
melakukan tindakan tegas seperti memberi sanksi tegas bagi pedagang yang masih
menggunakan boraks dan formalin, bahkan badan ini masih kurang gencar dalam
melakukan razia. Dari data angket
yang kami sebarkan ke beberapa responden, terdapat pertanyaan : “Menurut anda
apakah peran pemerintah sudah ada dalam pemberantasan formalin? “ Dan dari
pertanyaan itu, sebanyak 4 orang menjawab upaya pemerintah sudah banyak,
sebanyak 17 orang menjawab upaya pemerintah sudah lumayan, dan terakhir 19
orang menjawab upaya pemerintah tidak ada sama sekali. Dari hasil angket diatas, dapat disimpulkan bahwa upaya pemerintah
masih kurang, karena lebih banyak orang yang beranggapan bahwa upaya pemerintah
masih sangat kurang. Ini mungkin disebabkan karena memang pemerintah kurang
serius / tegas dalam menangani masalah ini, padahal ini adalah masalah yang
serius, karena dapat membahayakan kesehatan manusia. Pemerintah seharusnya
lebih gencar dalam menangani masalah ini.
BAB V
PENUTUP
PENUTUP
Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan dan saran.
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan
uraian pada bab IV dapat disimpulkan bahwa:
a.
Sebagian
besar dari kita telah mengetahui tentang boraks dan formalin secara pasti,
tetapi ada juga sebagian kecil lainnya yang belum begitu mengetahui apa itu
boraks dan formalin.
b.
Masih
ada sebagian dari kita yang belum mengetahui secara pasti dampak penggunaan
boraks dan formalin pada produk makanan, walaupun sebagian ada yang mengetahui secara
pasti.
c.
Menurut
responden tahu dan bakso adalah makanan yang paling sering menjadi sasaran
penggunaan boraks dan formalin. Tetapi menurut penelitian BPOM pada tahun 2005,
ikan adalah bahan makanan yang paling sering menjadi sasaran boraks dan formalin.
d.
Pemerintah
masih sangat kurang dan tidak tegas dalam mengatasi masalah penggunaan boraks
dan formalin, sehingga masih banyak kasus mengenai hal ini terjadi.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan dan keseluruhan makalah ini kami ingin memberikan
beberapa saran sebagai berikut:
a. Berikan penyuluhan lebih lanjut kepada
masyarakat mengenai boraks dan formalin, pengertian, fungsinya, serta dampaknya
apabila tidak digunakan sesuai fungsinya.
b. Pengawasan yang lebih ketat oleh
pemerintah dan pengambilan tindakan tegas, seperti mengirimkan
pengawas-pengawas pemerintah ke daerah-daerah tertentu dan membuat
undang-undang mengenai boraks dan formalin.
c. Masyarakat harus lebih jeli dalam
memilih makanan dan tidak membelinya bila sepertinya mengandung bahan formalin
maupun boraks.
d. Kesadaran dari masyarakat untuk
membantu pemberantasan dan pencegahan penggunaan boraks dan formalin pada bahan
makanan. Seperti melaporkan kepada yang berwajib jika melihat ada orang lain
yang sengaja menggunakan boraks dan formalin pada makanan yang dijualnya, dan
juga tidak secara sembarangan menjual boraks dan formalin, tanpa mengetahui
latar belakang pembeliannya.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.beritaindonesia.co.id
http://www.depkes.go.id
http://www.disnakkeswan-lampung.go.id
http://id.wikipedia.org
http://www.gizi.net
0 komentar:
Posting Komentar